Seni, Pendobrak Pemikiran

Seni sering kali dikaitkan dengan pemberontakan. Okay, orang melayu mungkin mengkaitkannya dengan air kencing, tapi itu lain cerita.

Pertanyaanya sekarang, bagaimana bisa seni yang indentik dengan keindahan bisa menjadi bentuk -dan bahkan memicu- pemberontakan?.

pkSekarang coba pikirkan kenapa lukisan-lukisan Da Vinci Monalisa maupun musik-musik Beethoven bisa begitu terkenal hingga saat ini? Karena karya-karya tersebut selalu diperbincangkan, bahkan ketika orang-orang tidak lagi berhadapan dengan karya itu. Dan itu terjadi, karena karya-karya tersebut berperan bukan sebagai ‘pemberi jawaban’ melainkan sebagai ‘pendobrak pemikiran.

Saya ambil contoh dari pengalaman saya pribadi. Lanjutkan membaca “Seni, Pendobrak Pemikiran”

Iklan

Halo dunia!

Halo! Saya mantan anak alay yang dulu sering curhat di blog ini.

Berhenti menjadi alay membuat saya tidak begitu self centered seperti dulu. Malah nampaknya ada indikasi bahwa saya trauma. Beberapa waktu lalu saya datang ke pameran seni di Jogja. Teman saya menawari ‘Aku fotoin kalo mau foto sama salah satu karya.

Saya kicep.

Rasanya seperti ditawari untuk menodai diri sendiri. Padahal aslinya wajar-wajar saja. Karena karya yang dipajang memang sangat photoable. Toh banyak teman-teman saya yang berfoto. Dan menurut saya mereka tidak alay sama sekali. Tapi kalo saya yang berfoto, entah kenapa rasanya alay. Iya, masa kelam saya dampaknya sebesar itu.

Tapi sebagai warga negara Indonesia, saya punya hak untuk bersuara. Negara ini memberi kita kebebasan untuk berpendapat, seperti dinyatakan dalam UUD 1945 dalam pasal 28E ayat 3: Lanjutkan membaca “Halo dunia!”