Seni, Pendobrak Pemikiran

Seni sering kali dikaitkan dengan pemberontakan. Okay, orang melayu mungkin mengkaitkannya dengan air kencing, tapi itu lain cerita.

Pertanyaanya sekarang, bagaimana bisa seni yang indentik dengan keindahan bisa menjadi bentuk -dan bahkan memicu- pemberontakan?.

pkSekarang coba pikirkan kenapa lukisan-lukisan Da Vinci Monalisa maupun musik-musik Beethoven bisa begitu terkenal hingga saat ini? Karena karya-karya tersebut selalu diperbincangkan, bahkan ketika orang-orang tidak lagi berhadapan dengan karya itu. Dan itu terjadi, karena karya-karya tersebut berperan bukan sebagai ‘pemberi jawaban’ melainkan sebagai ‘pendobrak pemikiran.

Saya ambil contoh dari pengalaman saya pribadi. Salah satu mata kuliah di jurusan saya membicarakan tentang televisi, mencakp program hingga iklan. Bagi saya, itu adalah mata kuliah yang membosankan. Maka ketika dosen menyarakan untuk membaca buku tentang iklan, saya tidak membacanya. I love movie, but I don’t fucking care about TV.

Kemudian saya menonton film Aach… Aku Jatuh Cinta garapan Garin Nugroho. Filmnya norak. Bahasanya kaku. Benar-benar dibuat seperti film jadul. Banyak kejadian dalam film yang tidak diberikan penjelasan dan membuat bertanya-tanya. Bahkan penonton malam itu tidak sampa 10 orang. Namun bukan Garin Nugroho namanya kalau tidak bisa membuat saya terpikat denga filmnya.

aach

Minggu depannya ketika mata kuliah tersebut membahas tentang sistem iklan di TV, saya teringat bahwa kedua karakter dalam film Aach… Aku Jatuh Cinta, keluarganya mengalami kebangkrutan karena ‘TV’ meski profesi keduanya berbeda. Saya lalu mengajukan pertanyaan. Padahal waktu dipanggil untuk absen saja saya sering tidak angkat tangan.

Dari situ, saya menyadari bahwa iklan di TV nasional tenyata punya peran yang sangat besar dalam menggerakan kapitalisme di Indonesia. Sistem periklanan di TV nasional bukan hanya sekedar alat bisnis perusahaan besar, tapi juga monopoli persaingan yang mematikan industri kecil.

Mata kuliah hari itu tiba-tiba saja menjadi menarik bagi saya.

Sejarah membuktikan bahwa seni berperan besar dalam mebuat orang berani melawan. Mereka melawan karena tahu. Mereka tahu, karena bersedia membuka pemikirannya. Dan itu terjadi karena mereka berhenti berpikir bahwa pemikiran yang selama ini diajarkan padanya adalah kebenaran mutlak.

‘Memberi jawaban’ adalah peran ilmu pengetahuan. Sedangkan peran seni, adalah mendobrak pemikiran. Jika buku diibarakan sebagai pintu, seni sangat tepat diibaratkan sebagai kunci.

________
Note: Tulisan saya tentang iklan TV sebagai penggerak kapitalisme bisa dibaca di sini.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s