Siapa yang salah?

 

Sudah begitu sering media di Indonesia memberitakan sesuatu dengan mengabaikan etika jurnalistik, bahkan etika non-junalistik sekalipun. Ambil satu contoh, yaitu ketika salah satu stasiun televisi memberitakan bahwa kecelakaan  yang terjadi pada kapal terbang Air sia QZ8501 adalah kesalahan pilot. Berita tersebut mengudara sebelum kotak hitam ditemukan dan badan yang berwenang mengkonfirmasi secara resmi.

Pada kasus tesebut, media bertindak terburu-buru, megesampingkan validitas kebenaran, dan malah fokus memberikan pancingan tentang apa yang harus dipikirkan oleh masyarakat. Dalam hal ini, stasiun TV itu memberikan sosok untuk ¬†disalahkan. Lanjutkan membaca “Siapa yang salah?”

Iklan

Seni, Pendobrak Pemikiran

Seni sering kali dikaitkan dengan pemberontakan. Okay, orang melayu mungkin mengkaitkannya dengan air kencing, tapi itu lain cerita.

Pertanyaanya sekarang, bagaimana bisa seni yang indentik dengan keindahan bisa menjadi bentuk -dan bahkan memicu- pemberontakan?.

pkSekarang coba pikirkan kenapa lukisan-lukisan Da Vinci Monalisa maupun musik-musik Beethoven bisa begitu terkenal hingga saat ini? Karena karya-karya tersebut selalu diperbincangkan, bahkan ketika orang-orang tidak lagi berhadapan dengan karya itu. Dan itu terjadi, karena karya-karya tersebut berperan bukan sebagai ‘pemberi jawaban’ melainkan sebagai ‘pendobrak pemikiran.

Saya ambil contoh dari pengalaman saya pribadi. Lanjutkan membaca “Seni, Pendobrak Pemikiran”

Halo dunia!

Halo! Saya mantan anak alay yang dulu sering curhat di blog ini.

Berhenti menjadi alay membuat saya tidak begitu self centered seperti dulu. Malah nampaknya ada indikasi bahwa saya trauma. Beberapa waktu lalu saya datang ke pameran seni di Jogja. Teman saya menawari ‘Aku fotoin kalo mau foto sama salah satu karya.

Saya kicep.

Rasanya seperti ditawari untuk menodai diri sendiri. Padahal aslinya wajar-wajar saja. Karena karya yang dipajang memang sangat photoable. Toh banyak teman-teman saya yang berfoto. Dan menurut saya mereka tidak alay sama sekali. Tapi kalo saya yang berfoto, entah kenapa rasanya alay. Iya, masa kelam saya dampaknya sebesar itu.

Tapi sebagai warga negara Indonesia, saya punya hak untuk bersuara. Negara ini memberi kita kebebasan untuk berpendapat, seperti dinyatakan dalam UUD 1945 dalam pasal 28E ayat 3: Lanjutkan membaca “Halo dunia!”